BRMP Bali Hadiri Kegiatan Tanam Bersama Padi Gogo di Denpasar
Senin, 7 Juli 2025 – BRMP Bali menghadiri kegiatan tanam bersama kegiatan padi gogo, dalam rangka mempercepat peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) mendukung Swasembada Pangan di Kota Denpasar. Tepatnya di Subak Ubung, Kelurahan Ubung, Kecamatan Denpasar Utara. Kegiatan ini dirancang oleh Dinas Pertanian Kota Denpasar sebagai solusi bagi petani yang menghadapi tantangan kekeringan lahan.
Hadir pula dalam kegiatan bersama Plt. Kepala Bidang TPH Dinas Pertanian Kota Denpasar dan staf, Koordinator BPP Denpasar Utara, PPL, POPT, Pekaseh Subak Ubung dan petani pelaksana Demplot.
Plt. Kabid TPH Distan Denpasar, Gusti Ayu Ngurah Anggreni Suwari, S.P, M.Si., menjelaskan pelaksanaan demplot pengembangan padi VUB pada lahan seluas 4 hektar termasuk padi gogo di dalamnya seluas 50 are. "Demplot padi gogo menggunakan Varietas Inpago 13 Fortiz. Varietas ini memiliki keunggulan kandungan zinc dan protein tinggi, produksinya pun cukup baik cocok untuk lahan kering dan lahan tadah hujan" jelasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan Demplot didesain dengan dua perlakuan yaitu, tanam dengan benih langsung dengan pengolahan lahan kering dan tanam pindah menggunakan benih berumur 15 hari setelah semai (HSS) dengan pengolahan lahan sempurna. "Program demplot ini pertama kali dilaksanakan bertujuan untuk memberikan contoh langsung kepada petani mengenai cara budidaya padi gogo dengan pengolahan kering. Melalui demplot ini, ingin menunjukkan teknologi dan teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi setempat, dimana kedepannya lahan akan mengalami kekeringan karena banyaknya lahan yang alih fungsi menjadi perumahan dan kerusakan saluran irigasi" tuturnya.
Khusus teknis pelaksanaan Demplot padi Inpago dikoordinir oleh Sagung Ayu Nyoman Aryawati (Analis Srandardisasi BRMP Bali) selaku PJ Swasembada Pangan di Kota Denpasar. Benih ditanam menggunakan tugal dengan kedalaman sekitar kurang lebih 5 cm, lalu ditutup pupuk organik. Jarak tanam yang digunakan adalah 20 cm x 20 cm, dengan 2-3 benih per lubang.
Menurut Sagung padi gogo tahan terhadap kekeringan, namun tetap membutuhkan air yang cukup saat fase pertumbuhan tertentu. Tumbuh di lahan kering dengan kebutuhan air yang jauh lebih sedikit dibandingkan padi sawah, namun tetap memiliki hasil yang baik. "Ini adalah solusi tepat di tengah keterbatasan air karena perubahan iklim dan adanya kerusakan saluran irigasi" jelasnya.
Sementara itu Pekaseh Subak Ubung, I Dewa Gede Suma Putra, S.E., mengucapkan terima kasih dan menyambut positif kegiatan ini. Ia mengungkapkan bahwa para petani menghadapi kesulitan air akibat rusaknya saluran irigasi di bagian hulu. "Kami berharap padi gogo yang lebih tahan terhadap kekeringan bisa menjadi solusi jangka panjang bagi petani di Subak Ubung dan sekitarnya" ungkapnya.
Sagung Aryawati & Tim LTT Kota Denpasar.